Posts

Showing posts from 2015

Di IPNU Tidak Ada Ujrah Yang Ada Hanya Ajrah

Image
Muhammad Said, Caketum PP IPNU 2015-2018 Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) DKI Jakarta Muhammad Said pernah menegaskan, berjuang di IPNU jangan mengharap imbalan atau upah karena dengan niat seperti itu malah akan mempersulit diri ketika saat mengharapkannya yang datang hanya kecewa, lain halnya bila niatnya ingin membesarkan nama NU dengan berkhidmat dengan ketawadluan, menjadikan IPNU sebagai medan perjuangan yang notabene tidak mengenal lelah atau berhenti ditengah jalan, dan menghimpun segala potensi untuk sama-sama menciptakan nuansa pengkaderan dengan baik, maka semunya pasti ada manfaatnya tetapi hal itu memang tidak dirasakan langsung manfaatnya melainkan keringat perjuangan itu akan dirasakan setelah ia sudah tidak lagi berkecamuk dengan organisasi atau ia naik ke level yang lebih tinggi, dengan catatan ia dinilai mampu meberikan kontribusi baik. Inilah yang disebut feedback positif atau ajrah. dengan kata yang lebih beripnu "di IPNU tidak ada ujrah yang ad...

Nalar Islam Politik; Tinjauan Geneologis Historis

Image
Prolog Idealisme dan realitas seringkali tak menampilkan wajah yang sama. Islam cita-cita mewangi dan mengandung nilai etis yang agung, sementara Islam sejarah—sebagai manifestasi realita sesungguhnya— terkadang membuat kita terdiam, tercengang, tak percaya. Islam yang memiliki adagium abadi sebagai agama “rahmatan lil ‘alamîn” cenderung digeret ke area kepentingan pribadi, golongan dan kelompok tertentu. Politisasi agama, kalau boleh kita sebut, menjadi lembaran hitam sejarah yang seharusnya diamati secara sadar sehingga tak memberi ruang bagi generasi Islam masa kini untuk mengulangi kesalahan yang sama. Islam sejarah hanya sebagian dari fakta sejarah yang tak mungkin diabaikan, ia serupa saksi bisu peristiwa-peristiwa penting yang—sengaja maupun tidak— dilupakan oleh sebagian historian muslim karena suatu alasan, dan dicatat secara detail oleh yang lainnya. Sosio-politik, kultur dan psikologi historian tatkala menulis perlu dijadikan pijakan untuk menelisik lebih jauh menge...

Menyegarkan Kembali Faham Ahlussunnah Wal Jama'ah

Image
Pembuka Tarik ulur dalam memperebutkan label Ahlussunnah Wal Jama'ah (di Indonesia kemudian disingkat menjadi "Aswaja" atau "Sunni" seperti umum dipakai di dunia Arab dan orientalis) sebagai "sekte yang selamat" dalam sebuah hadis Nabi Saw., sejatinya sudah berlangsung semenjak Islam datang. Meski ketika ditelusuri, Aswaja dekade ini hanya mengerucut pada 3 sekte besar di dunia Islam. Karena ternyata yang mau secara bangga dan terang-terangan mengaku sebagai Aswaja hanya kaum teolog Asy'ari, Maturidi, dan Taimiyin (pengikut Ibn Taimiyah-Ahmad bin Hambal). Sementara Syiah lebih suka disebut sebagai Ahlul Bait, Muktazilah lebih nyaman dengan sebutan Ahlu At-Tauhid wal Adl, dan Khawarij lebih memilih nama Ahlu As-Salam dst. Sehingga internal dunia Islam ketika mendengar dan membaca terma "Aswaja" akan terlintas ketiga sekte di atas. Para orientalis pun juga demikian. [1]   Kenyataan ini memancing beragam respon dari masing-masing 3 ...